Senin, 22 Juli 2019


n Psi gangguan psikosomatik yang mempengaruhi fungsi kelenjar keringat sehingga telapak tangan basah atau berkeringat secara berlebihan saat merasa cemas.




Kita adalah sepasang malu yang tak pernah menuntut untuk saling bertemu. Sifat kita juga sangat jauh berbeda. Kau perempuan menawan yang terlihat ceroboh dan penuh agahan. Selalu mendapat perhatian dari semua orang yang ingin menjadikanmu sekedar kawan bahkan pasangan. Seperti karamel ditengah-tengah koloni semut yang saling berebut. Kau semanis itu. Hingga kau lupa tak pernah sedikitpun batinmu mencicipi rasa pahit dari sebuah rasa sakit. Kau bahagia, setidaknya.

Sedangkan.

Aku mahasiswa baru yang ketika itu botak dan selalu diam dalam jarak. Bermandikan senja kala hati bersua dengan duka di pelataran beranda kecil di tepi kota. Aku terbiasa menikmati setiap degukan dan menghayatinya dalam-dalam hingga malam. Menikmati setiap ingatan yang tetap kuusahakan untuk sebuah senyuman.

Masih terbayang ketika kita berselisih jalan disebuah lorong dan kemudian bertemu dalam sebuah pandangan. Kau diam dalam langkahan sembari menguntai senyuman. Dahi ku kerutkan dengan sedikit air ludah yang tertelan. Hatiku bergelombang ibarat ombak pantai yang beralun. Kuakui, kau cantik sebagai seorang perempuan.  Seiringan dengan itu, kau berhenti diantara kerumunan orang-orang yang selanjutnya kau jadikan kawan.  Akupun berlalu dengan nadi yang masih ingin bersinggungan. Kau menawan.

Tapi itu adalah awal dari serangkaian kisah sebuah perjuangan. Perjuangan untuk mendapatkanmu dengan berbagai alasan. Perjuangan yang membuka luka bercucuran darah, menyesakkan. Disaat perjuangan itu akhirnya kandas ditengan jalan. Kau membisikkan luka yang tiap malam membuat mata tak ingin terpejam. Menjelaskan betapa angkuhnya hatimu kala aku berani keluar dari zona nyaman. Kau membunuhku perlahan.
www.pexels.com


Dengan teriak akan kutegaskan.

Robek saja!!! Tusuk aku dimana kau mau sekarang!!! Bumbuilah dengan cuka dan asam setiap diam yang kau lontarkan. Akan kuterima segala kepedihan yang tanpa ampun kau berikan. Sampai kau mengerti, bahwa cinta itu takkan pernah mati. Silahkan kau nikmati kini. Tertawa dalam setiap kata, bercinta dalam setiap hembusan nafas di dada. Jujur kau menawan, namun mematikan.

 Hingga sampai waktunya.

Kau sadar ada hati yang telah kau buat terluka. Namun selalu mendoakanmu dalam setiap pengaduan kepada Tuhannya. Kau akan ingat dengan semua linimasa yang telah kita lakukan bersama. Dengan segala luka, lara, yang pernah kau berikan dalam bentuk bingkisan. Menyayat perasaan yang telah lama menantimu dalam sebuah kata kepastian. Kau akan menangis, hingga airmata berhargamu itu habis. Kau akan malu berselisih denganku. Waktumu akan penuh dengan irama dan peliknya nada suaraku. Mulutmu akan kaku bisu dalam setiap sapaan. Telapak tangan yang penuh keringat kala aku melontarkan senyum singkat. Akhirnya dengan semua tekanan kau akan berujar maaf yang sudah sangat terlambat.

Untuk saat ini, aku hanya akan bersembunyi. Menepi dalam segala kelusuhan yang sebisa mungkin kunikmati. Menjahit tiap inci luka yang telah menganga. Bertemankan malam yang akan selalu setia kubawa. Beserta secarik kertas berisi umpatan sayang untukmu, perempuan yang telah memberi rasa dan mungkin tidak semua orang dapat merasa. Rasa cinta yang telah kuterima namun kau buang sekenanya. Jatuh hancur menjadi bubur.

Kau tak akan pernah lagi merasakan cinta seperti itu. Cinta yang rela terbunuh hanya untuk melihatmu kembali utuh. Utuhmu yang selalu meminta diperhatikan. Selalu ingin dijunjung kala nafasku terengah-engah. Selalu membalikkan badan kala rautku memintah balas kasihan. Kau seangkuh itu untuk perempuan semanis karamel. Kau tak pernah berpikir sediktipun tentang perasaan yang aku rasakan. Cinta itu akan selalu menjadi piagam penghargaan. Dikala sendiri akan ku lihat kembali setiap incinya yang mungkin saat itu telah mati. Menjadi pengingat bahwa hatiku pernah dibuang dalam jurang pengorbanan. Sebagai cerita untuk keturunanku yang akan selalu kaulihat dalam kecemburuan.

Ini bukanlah dendam. Namun hatiku hanya ingin sedikit bahagia disaat bentukannya yang telah remuk lebam. Kau dan aku akan selalu begitu, tertawa, tersenyum namun tidak dalam ruang lingkup kita. Hanya kau dan aku.

Anggap saja aku merelakan permata berhargaku. Yang kulepas disaat batinku menolak dengan keras.  Permata yang akan tetap kusaksikan setiap saat. Dalam kejauhan akan selalu kupandang dengan panuh kata sayang. Tapi tak berhak lagi untuk kudapatkan.

Untuk pertama kali, akan ku sampaikan bahwa kini aku menyukaimu tanpa landasan cinta untukmu. Akan kuperas segala keringat hingga tak ada lagi gugup yang selalu membuatku terhambat. Akan selalu ku hirup udara meski tusukanmu masih tepat menancap di dada. Akan terus melangkah walau di depanku bayangmu masih mengahantuiku dengan serakah.

Kau telah kupersilahkan pergi. Bahkan dihari ketika aku ingin hubungan itu diakhiri. Biarlah aku hanyut dalam nelangsa, asal kau bahagia dengan pilihanmu selanjutnya.

Setidaknya.

Dengan semua kerelaan itu kau akan lebih nyaman melanjutkan kehidupan. Tawamu lebih berseri daripada bunga yang mekar dipagi hari. Wajahmu memancarkan segala bentuk keindahan ciptaan Tuhan. Kau tidak akan merasakan luka. Kekanganku akan hilang beriringan dengan kepergianku. Diamku akan menjadi tembok penahan kasih untukmu. Anggap aku tidak ada. Dengan semua kejadian yang telah kau dan aku lalui bersama, kuingin kau tetap menjadi manusia yang lebih mengerti tentang hati. Tak perlu lagi tanganmu berkeringat untukku. Kegugupanmu telah kubiarkan mengambang. Kau telah kuhilangkan dalam setiap rak impian. Walaupun nantinya kita akan bertem lagi. Tapi tak akan ku ambil kesempatan untuk merangkul cintamu lagi.

****

Post a Comment: