3. INTROPUNITIF
n Psi respons setelah
frustasi berupa tindakan menyalahkan dan menghukum diri sendiri atau merasa
bersalah.
Dirimu
dan aku dulu pernah manyatu menjadi kata kita tersusun dalam wadah berbentuk
bejana yang kuhias agar kau bersedia tinggal dengan pantas. Bejana yang ku ukir
sendiri dengan penuh arti. Mentasbihkan dirimu sebagai sosok yang selama ini
kuimpikan sebagai pengaduan nantinya dalam masa peristirahatan. Ketika kepalaku
berlumuran helaian uban dan wajahmu yang pasti akan selalu menawan. Ketika tangan keriputmu masih bersedia menyajikan
teh kala matahari menyapa dengan hangat.
Kita akan berbincang di beranda rumah seraya tertawa
bersama mengenang masa lalu ketika kau dan aku dipertemukan. Kau mungkin akan
mentertawakan sikapku yang pemalu dibandingkan dirimu yang suka akan kebebasan.
![]() |
| www.pexels.com |
Bersama menuju senja kita akan
saling tertawa, berduka, bersuka, dan bertengkar seperti pasangan yang baru
saja beberapa hari mengucap ikrar. Kau akan melebarkan matamu dan marah ketika
aku mulai menyinggung dan menertawakan soal buruknya kualitas jaringan telepon
dirumahmu. Kau akan tersenyum ranum ketika aku berbicara tentang cokelat yang
selalu membuatmu terpikat. Airmatamu akan jatuh ketika aku mulai menyinggung
masa lalumu yang ampuh membuatmu luluh
dan rapuh. Kita akan saling berpangkuan dan
menatap dengan harap yang pasti telah sering terucap namun selalu membuat
hariku sedap.
Terakhir.
Kita akan kembali berucap tentang
kalimat yang membuat hati kita saling melekat. Tentang kesetiaan, janji, dan
saling mengerti yang menjadi pilar sejajar berlandaskan cinta sebagai dasar.
Itu mimpiku untukmu.
Dulu.
Sekarang aku sadar mimpi itu hanya
akan selalu tergantung sebagai kalimat yang tak akan berujung. Aku yang memilih
perpisahan itu. Perpisahan yang menjadi akhir
betapa jenuhku memuncak ketika dirimu menganggap diriku hanya sebagai riak yang berserak.
Hatimu terlalu tuli untukku berteriak. Terlalu bisu untukku mengungkapkan
rindu. Terlalu batu untukku ajak berkelana dalam mimpi yang telah kutulis
dengan manis. Manisnya melebihi cokelat kesukaanmu. Yang selalu ku tawarkan
bersamaan dengan indahnya perasaan cinta. Kau hanya menikmati cokelatnya tapi
tidak menerima cintanya.
Sebab.
Kau terlalu mudah terjebak dalam
masa lalu yang berlalu. Mantanmu yang sangat kau cintai itu mendua dengan
alasan jarak yang membuat dada sesak. Hatimu terlanjur kau berikan dan tidak
pernah mampu untuk kau minta dikembalikan. Kemudian aku datang dengan maksud
membawa ketenangan. Di malam itu seperti yang kuharapkan, kau menerima dengan
senyuman. Membuka
pintu untukku bisa
masuk mengisi ruang yang dulunya ditempati pria yang telah hilang.
Tapi.
Kau hanya butuh dikala jenuh.
Pengobat luka namun ketika sembuh kau hilang seperti belalang diantara ilalang. Aku
benci itu. Kau mencariku ketika terlalu banyak sedih yang terpaksa harus kau bagi. Aku menerima
sedihmu dan aku memberikan kebahagianku. Dan sekarang hanya tersisa sedihmu yang
terus berulang untukku lagi dan lagi.
Hariku
seperti siklus hujan. Hujan diawali dengan penguapan menjadi awan berisi
rintik-rintik air dan jatuh bebas ketanah. Begitu seterusnya. Hampir sama
dengan hariku. Hariku diawali dengan penguapan memori menjadi renungan berisi
rintik-rintik kenangan dan jatuh bebas masuk kerongga hati. Bedanya hujan
dirasakan semua orang. Tapi hariku hanya sebatas aku. Jika terluka hanya aku
yang melara.
Aku
yang salah telah memilih kata pisah. Aku lebih memilih hati daripada bertahan
dengan hubungan yang serasa hanya aku yang menjalani. Dari sikapmu yang seolah
tidak peduli membuatku berucap cukup. Rasa yang kau anggap cinta bagiku
hanyalah sebuah fatamorgana. Karena cintamu tidak pernah lagi ingin mencicipi rasa luka. Sampai kini
aku ingin mencoba mengerti kenapa kau tidak pernah mau menerima cinta ini secara utuh dan
menyeluruh. Namun tak pernah masuk dalam
benak dan akalku. Mungkin rasamu sekarang telah tiada, namun cintaku akan
selalu menyapamu dalam setiap kesempatan yang ada.
Aku salah. Memilih kata pisah.
Mungkin aku terlalu egois. Aku memutuskan hubungan itu dikala hari-harimu
butuh belaian rindu. Kau ingin meminta tapi kau malu berucap dengan kata. Kau
hanya diam dan aku yang terlambat mengerti akan semua kode yang telah kau
ungkap pejam. Aku yang terlalu bodoh. Sangkaku, akan lebih lega setelah semua
hal yang berhubungan dengan dirimu berakhir. Cintaku akan lebih bebas memilih
tanpa takut merintih disetiap malam yang kupilih. Getirku akan berkurang
bersamaan dengan hari yang akan selalu bergilir.
Sslluuuurpp. Ahhh...
Pahitnya kopi itu tak pernah cukup untuk menandingi pahitnya luka yang
terlalu lama menganga. Kau dengan senang hati pergi. Sedangkan aku malah
terjebak dalam cinta yang bagimu tak pernah berarti lagi. Maafkan aku cintaku.
Bersemayam dalam setiap langkah yang kulalui, namamu selalu terucap dalam
setiap getir yang memikat. Jujur, kusesalkan semua kejadian malam itu. Kata udahan yang harus kupikir dengan seribu
kali, kunafaskan berjuta kali, kulangkahkan ratusan kali, dan kudiamkan
miliaran kali.
Maaf aku serakah.
Saat kau mengetahui semua ini janganlah kau merasa bersalah. Hatimu ada
untukkau bebas pergunakan. Hanya aku yang salah dalam mengambil tindakan.
Cerobohku membunuhku dan membuangnya ke sakit yang tak bertuan. Kau silahkan
menikmati harimu. Biar aku yang sibuk dengan semua lara yang telah bercambuk.
Wajahmu terlalu cantik untuk merasa terluka. Hatiku pantas mendapat duka.
Terimakasih untuk semuanya.
****






1 komentar :
Ditunggu lanjutannya
Reply