Senin, 15 Juli 2019


n Psi respons setelah frustasi berupa tindakan menyalahkan dan menghukum diri sendiri atau merasa bersalah.

           Dirimu dan aku dulu pernah manyatu menjadi kata kita tersusun dalam wadah berbentuk bejana yang kuhias agar kau bersedia tinggal dengan pantas. Bejana yang ku ukir sendiri dengan penuh arti. Mentasbihkan dirimu sebagai sosok yang selama ini kuimpikan sebagai pengaduan nantinya dalam masa peristirahatan. Ketika kepalaku berlumuran helaian uban dan wajahmu yang pasti akan selalu menawan. Ketika  tangan keriputmu masih bersedia menyajikan teh  kala matahari menyapa dengan hangat. Kita akan berbincang di beranda rumah seraya tertawa bersama mengenang masa lalu ketika kau dan aku dipertemukan. Kau mungkin akan mentertawakan sikapku yang pemalu dibandingkan dirimu yang suka akan kebebasan.
www.pexels.com




            Bersama menuju senja kita akan saling tertawa, berduka, bersuka, dan bertengkar seperti pasangan yang baru saja beberapa hari mengucap ikrar. Kau akan melebarkan matamu dan marah ketika aku mulai menyinggung dan menertawakan soal buruknya kualitas jaringan telepon dirumahmu. Kau akan tersenyum ranum ketika aku berbicara tentang cokelat yang selalu membuatmu terpikat. Airmatamu akan jatuh ketika aku mulai menyinggung masa lalumu yang ampuh membuatmu luluh dan rapuh. Kita akan saling berpangkuan dan menatap dengan harap yang pasti telah sering terucap namun selalu membuat hariku sedap.

                Terakhir.

               Kita akan kembali berucap tentang kalimat yang membuat hati kita saling melekat. Tentang kesetiaan, janji, dan saling mengerti yang menjadi pilar sejajar berlandaskan cinta sebagai dasar.

                Itu mimpiku untukmu.

                Dulu.

            Sekarang aku sadar mimpi itu hanya akan selalu tergantung sebagai kalimat yang tak akan berujung. Aku yang memilih perpisahan itu. Perpisahan yang menjadi akhir betapa jenuhku memuncak ketika dirimu menganggap diriku hanya sebagai riak yang berserak. Hatimu terlalu tuli untukku berteriak. Terlalu bisu untukku mengungkapkan rindu. Terlalu batu untukku ajak berkelana dalam mimpi yang telah kutulis dengan manis. Manisnya melebihi cokelat kesukaanmu. Yang selalu ku tawarkan bersamaan dengan indahnya perasaan cinta. Kau hanya menikmati cokelatnya tapi tidak menerima cintanya.

              Sebab.

            Kau terlalu mudah terjebak dalam masa lalu yang berlalu. Mantanmu yang sangat kau cintai itu mendua dengan alasan jarak yang membuat dada sesak. Hatimu terlanjur kau berikan dan tidak pernah mampu untuk kau minta dikembalikan. Kemudian aku datang dengan maksud membawa ketenangan. Di malam itu seperti yang kuharapkan, kau menerima dengan senyuman. Membuka pintu untukku bisa masuk mengisi ruang yang dulunya ditempati pria yang telah hilang.

            Tapi.

           Kau hanya butuh dikala jenuh. Pengobat luka namun ketika sembuh kau hilang seperti belalang diantara ilalang. Aku benci itu. Kau mencariku ketika terlalu banyak sedih yang terpaksa harus kau bagi. Aku menerima sedihmu dan aku memberikan kebahagianku. Dan sekarang hanya tersisa sedihmu yang terus berulang untukku lagi dan lagi.

Hariku seperti siklus hujan. Hujan diawali dengan penguapan menjadi awan  berisi rintik-rintik air dan jatuh bebas ketanah. Begitu seterusnya. Hampir sama dengan hariku. Hariku diawali dengan penguapan memori menjadi renungan berisi rintik-rintik kenangan dan jatuh bebas masuk kerongga hati. Bedanya hujan dirasakan semua orang. Tapi hariku hanya sebatas aku. Jika terluka hanya aku yang melara.

Aku yang salah telah memilih kata pisah. Aku lebih memilih hati daripada bertahan dengan hubungan yang serasa hanya aku yang menjalani. Dari sikapmu yang seolah tidak peduli membuatku berucap cukup. Rasa yang kau anggap cinta bagiku hanyalah sebuah fatamorgana. Karena cintamu tidak pernah lagi ingin mencicipi rasa luka. Sampai kini aku ingin mencoba mengerti kenapa kau tidak pernah mau menerima cinta ini secara utuh dan menyeluruh. Namun tak pernah masuk dalam benak dan akalku. Mungkin rasamu sekarang telah tiada, namun cintaku akan selalu menyapamu dalam setiap kesempatan yang ada.

Aku salah. Memilih kata pisah.

Mungkin aku terlalu egois. Aku memutuskan hubungan itu dikala hari-harimu butuh belaian rindu. Kau ingin meminta tapi kau malu berucap dengan kata. Kau hanya diam dan aku yang terlambat mengerti akan semua kode yang telah kau ungkap pejam. Aku yang terlalu bodoh. Sangkaku, akan lebih lega setelah semua hal yang berhubungan dengan dirimu berakhir. Cintaku akan lebih bebas memilih tanpa takut merintih disetiap malam yang kupilih. Getirku akan berkurang bersamaan dengan hari yang akan selalu bergilir.

Sslluuuurpp. Ahhh...

Pahitnya kopi itu tak pernah cukup untuk menandingi pahitnya luka yang terlalu lama menganga. Kau dengan senang hati pergi. Sedangkan aku malah terjebak dalam cinta yang bagimu tak pernah berarti lagi. Maafkan aku cintaku. Bersemayam dalam setiap langkah yang kulalui, namamu selalu terucap dalam setiap getir yang memikat. Jujur, kusesalkan semua kejadian malam itu. Kata udahan yang harus kupikir dengan seribu kali, kunafaskan berjuta kali, kulangkahkan ratusan kali, dan kudiamkan miliaran kali.

Maaf aku serakah.

Saat kau mengetahui semua ini janganlah kau merasa bersalah. Hatimu ada untukkau bebas pergunakan. Hanya aku yang salah dalam mengambil tindakan. Cerobohku membunuhku dan membuangnya ke sakit yang tak bertuan. Kau silahkan menikmati harimu. Biar aku yang sibuk dengan semua lara yang telah bercambuk. Wajahmu terlalu cantik untuk merasa terluka. Hatiku pantas mendapat duka. Terimakasih untuk semuanya.

****

1 komentar :