Selasa, 16 Juli 2019


           n Psi fobia menjadi lupa atau dilupakan dan tidak diacuhkan.


              Kita pernah berdiskusi kecil tentang idolamu yang sangat kau puja itu. semakin hari semakin kelabu dan jelas, oppa-mu membuatku cemburu. Obsesi yang mengikat hingga kau anggap mereka sahabat. Bagaimana kau bisa menyukai mereka jika hanya tersedia dalam jendela hp dan tidak bisa kau ajak bicara? Sahabat macam apa yang tega melihatnya menari-nari dan telanjang tanggung di atas panggung? Hingga akhirnya aku mengetahui betapa menyedihkan dan kesepiannya dirimu sampai-sampai kau masih merasa sendiri diantara banyaknya teman nyata yang tak pernah kau ajak berdiskusi dikala senja menyapa.

      Setiap saat melakukan pemenuhan hasrat dan nafsu dengan oppa-mu yang kau anggap menggairahkan itu. Kau akan berteriak kegirangan ketika dia menyatukan jempol dan telunjuk membentuk hati sebagai pertanda kasih yang kau raih. Palsu. Semu. Kau tidak pernah mau tahu dibalik semua itu idolamu hanya dipaksa untuk menghiburmu.
www.pexels.com


            Kau terluka.

         Hatimu berteriak namun kau tidak tau harus kemana kakimu berlari langkah demi langkah untuk berpijak. Kau melakukan coping dengan harap kenanganmu bersama mantan yang kau rindu bisa terobati tanpa harus patah hati lagi dengan kehadiran sahabat berponimu itu. Cuihh!!. Ludah itu untukmu.

            Hingga.

Kau mengacuhkanku yang terus berusaha menjahit tiap inci lukamu. Bersedia dengan sengaja terluka untuk melihatmu tertawa tanpa beban. Lugas dan lepas. Ku arungi hujan untukmu mendapatkan keteduhan. Menyelimutimu dengan hangatnya perasaan. Sampai kau sadar ada hati yang masih murni mencintaimu dengan penuh ketulusan. Yang tidak pernah berpikir untuk menduakanmu dan menjadikan jarak sebagai alasan. Hp yang seharian menunggumu berbalas dengan beberapa kalimat pesan. Yang rela memberikan telinga untukmu mencurahkan semua kegelisahan. Mulut yang bersedia menjawab semua keraguan. Sosok yang lebih baik dibanding sahabat berponimu itu. Yang menjual tubuhnya untuk mendapat harta dan tahta. Menjadikanmu budak yang bersedia melihatnya di sosial media. Yang tidak bisa kau ajak bicara untuk bercerita. Yang tidak bisa kau jadikan wadah untuk mencurahkan semua perasaan yang ada.

Aku dilupa.

Seperti berada di rumah-rumah eropa yang memiliki cerobong tempat keluarnya asap di musim dingin. Api yang tidak bisa menyala karena tungku pembakaran yang telah basah dideru bisingnya salju. Angin yang acap kali masuk dengan dinginnya yang menusuk. Seperti itulah hatiku tanpa bersamamu, dingin membeku. Yang aku inginkan hanya satu. Kehangatan dan lembutnya sapaan darimu. Tapi malah menjadi barang langka yang kau ganti dengan arang hitam dan luka.

Kau melupa.

Dirimu terbuai dengan kesenangan sesaat. Hatimu telah jauh jatuh terpikat. Hingga tidak pernah bisa diselamatkan sampai aku menulis kata-kata ini sebagai bentuk pembalasan. Apa kau tidak ingat hanya aku satu-satunya orang yang bersedia menjadi katrol untuk mengangkat hatimu. Mencucinya dengan lembut. Menjahit kembali setiap luka yang terbuka. Hingga tidak ada lagi darah yang keluar tanpa sisa. Tanpa rasa ingin dibayar aku berikan lagi kepadamu dengan tatapan sayu. Kau pergi tanpa berucap terima kasih. Meninggalkan diriku yang memanggilmu dengan lirih. Namun telinga mu tertutup oleh nyanyian asing bergambarkan manusia menari setengah telanjang tanggung diatas panggung.

Kau melupakanku. Yang berjuang menyelamatkan setiap onggok hati yang masih kau miliki. Walaupun hanya sisa, namun dengan semua kemampuan yang ada kucoba selamatkan agar kau tak lagi merasakan luka.  Kau mengacuhkanku. Dalam setiap panggilan yang selalu kuusahakan dapat mengetuk hatimu. Dengan sengaja kau menggembok hati yang ingin sekali ku miliki. Mengacuhkanku dengan setiap palingan. Menggantungku dengan tak terbalasnya sapaan.

Biarlah.

Semua akan ada masanya. Disaat kau sedang mengacak-ngacak lemari hati. Dan tanpa sengaja menemukan satu hati yang telah mati tapi kau lupa sudah lama memiliki. Warnanya akan berubah hitam, kusam, dan kelam. Hatiku yang sesuai janjiku kepadamu akan kuberikan utuh untukmu. Dia mati bersamaan dengan pengharapan yang tega dan lancang kau bubarkan. Sampai-sampai sedikitpun rasamu tidak pernah tercicipi olehku.

Akan muncul rasa bersalah. Kau akan bermandikan bejuta penyesalan yang membasahi setiap liku tubuhmu. Membuncahkan hati yang dulu tak pernah aku miliki. Mencurahkan airmata yang dulu tak pernah menganggapku ada. Menampar wajahmu yang dulu bagiku sangat cantik dan menarik. Menggugupkan langkahmu ketika mata kita tanpa sadar saling melirik.

Aku dilupa. Kau melupa.

Hari-harimu tak akan seperti dulu lagi. Kau akan melihatku sebagai sebuah penyesalan. Kau akan menyapaku dengan penuh harapan. Kemudian akan kubalas dengan senyum keterpaksaan. Kau akan berharap bisa menghidupkan hati yang telah mati. Tapi kau lupa hati itu telah setuju untuk kau kubur bermandikan lumpur. Kau akan berusaha mengingatkanku akan ingatan manis yang bersama kita lukis. Tapi kau lupa tidak pernah ada satupun kesempatan memaniskan harimu dengan tawa.

Kau akan kulupakan sebagai hati yang pernah kucintai sepenuh hati. Mendambamu berjuta kali. Memimpikanmu sebagai permaisuri. Cukup. Karena ketika hari itu tercelup, kau hanya akan kulihat sebagai seorang perempuan yang telah redup.

****


Coping
Santrock (2003): mengatur keadaan penuh beban, mengerahkan usaha untuk memecahkan masalah, dan mencoba untuk menguasai atau mengurangi tekanan dan berpikiran positif.

Post a Comment: