4. ATAZAGORAFOBIA
n Psi fobia menjadi
lupa atau dilupakan dan tidak diacuhkan.
Kita pernah berdiskusi kecil tentang idolamu
yang sangat kau puja itu. semakin hari semakin kelabu dan jelas, oppa-mu membuatku cemburu. Obsesi yang
mengikat hingga kau anggap mereka sahabat. Bagaimana kau bisa menyukai mereka
jika hanya tersedia dalam jendela hp dan tidak bisa kau ajak bicara? Sahabat
macam apa yang tega melihatnya menari-nari dan telanjang tanggung di atas
panggung? Hingga akhirnya aku mengetahui betapa menyedihkan dan kesepiannya
dirimu sampai-sampai kau masih merasa sendiri diantara banyaknya teman nyata
yang tak pernah kau ajak berdiskusi dikala senja menyapa.
Setiap saat melakukan pemenuhan
hasrat dan nafsu dengan oppa-mu yang
kau anggap menggairahkan
itu. Kau akan berteriak kegirangan ketika dia menyatukan jempol dan telunjuk
membentuk hati sebagai pertanda kasih yang kau raih. Palsu. Semu. Kau tidak
pernah mau tahu dibalik semua itu idolamu hanya dipaksa untuk menghiburmu.
![]() |
| www.pexels.com |
Kau terluka.
Hatimu berteriak namun kau tidak tau
harus kemana kakimu berlari langkah demi langkah untuk berpijak. Kau melakukan coping dengan harap kenanganmu bersama
mantan yang kau rindu bisa terobati tanpa harus patah hati lagi dengan
kehadiran sahabat berponimu itu. Cuihh!!.
Ludah itu untukmu.
Hingga.
Kau
mengacuhkanku yang terus berusaha menjahit tiap inci lukamu. Bersedia dengan
sengaja terluka untuk melihatmu tertawa tanpa beban. Lugas dan lepas. Ku arungi hujan untukmu mendapatkan keteduhan. Menyelimutimu dengan hangatnya perasaan.
Sampai kau sadar ada hati yang masih murni mencintaimu dengan penuh ketulusan.
Yang tidak pernah berpikir untuk menduakanmu dan menjadikan jarak sebagai
alasan. Hp yang seharian menunggumu berbalas dengan beberapa kalimat pesan.
Yang rela memberikan telinga untukmu mencurahkan semua kegelisahan. Mulut yang
bersedia menjawab semua keraguan. Sosok yang lebih baik dibanding sahabat
berponimu itu. Yang menjual tubuhnya untuk mendapat harta dan tahta.
Menjadikanmu budak yang bersedia melihatnya di sosial media. Yang tidak bisa
kau ajak bicara untuk bercerita. Yang tidak bisa kau jadikan wadah untuk
mencurahkan semua perasaan yang ada.
Aku
dilupa.
Seperti
berada di rumah-rumah eropa yang memiliki cerobong tempat keluarnya asap di
musim dingin. Api yang tidak bisa menyala karena tungku pembakaran yang telah
basah dideru bisingnya salju. Angin yang acap kali masuk dengan dinginnya yang
menusuk. Seperti itulah hatiku tanpa
bersamamu, dingin membeku. Yang aku inginkan hanya satu. Kehangatan dan
lembutnya sapaan darimu. Tapi malah menjadi barang langka yang kau ganti dengan
arang hitam dan luka.
Kau
melupa.
Dirimu
terbuai dengan kesenangan sesaat. Hatimu telah jauh jatuh terpikat. Hingga
tidak pernah bisa diselamatkan sampai aku menulis kata-kata ini sebagai bentuk
pembalasan. Apa kau tidak ingat hanya aku satu-satunya orang yang bersedia
menjadi katrol untuk mengangkat hatimu. Mencucinya dengan lembut. Menjahit
kembali setiap luka yang terbuka. Hingga tidak ada lagi darah yang keluar tanpa sisa. Tanpa rasa ingin
dibayar aku berikan lagi kepadamu dengan tatapan sayu. Kau pergi tanpa berucap
terima kasih. Meninggalkan diriku yang memanggilmu dengan lirih. Namun telinga
mu tertutup oleh nyanyian asing bergambarkan manusia menari setengah telanjang
tanggung diatas panggung.
Kau
melupakanku. Yang berjuang menyelamatkan setiap onggok hati yang masih kau
miliki. Walaupun hanya sisa, namun dengan semua kemampuan yang
ada kucoba selamatkan agar kau tak lagi merasakan luka. Kau mengacuhkanku. Dalam setiap panggilan yang
selalu kuusahakan dapat mengetuk hatimu.
Dengan sengaja kau menggembok hati yang ingin sekali ku miliki. Mengacuhkanku
dengan setiap palingan. Menggantungku dengan tak terbalasnya sapaan.
Biarlah.
Semua akan ada masanya. Disaat kau sedang mengacak-ngacak lemari hati. Dan
tanpa sengaja menemukan satu hati yang telah
mati tapi kau lupa sudah lama
memiliki. Warnanya akan berubah hitam, kusam, dan kelam. Hatiku yang sesuai
janjiku kepadamu akan kuberikan utuh untukmu. Dia mati bersamaan dengan
pengharapan yang tega dan lancang
kau bubarkan. Sampai-sampai sedikitpun rasamu tidak pernah tercicipi olehku.
Akan
muncul rasa bersalah. Kau akan bermandikan bejuta penyesalan yang membasahi
setiap liku tubuhmu. Membuncahkan hati yang dulu tak pernah aku miliki.
Mencurahkan airmata yang dulu tak pernah menganggapku ada. Menampar wajahmu
yang dulu bagiku sangat cantik dan menarik.
Menggugupkan langkahmu ketika mata kita tanpa sadar saling melirik.
Aku
dilupa. Kau melupa.
Hari-harimu tak akan seperti dulu lagi. Kau akan melihatku sebagai sebuah
penyesalan. Kau akan menyapaku dengan penuh harapan. Kemudian akan kubalas
dengan senyum keterpaksaan. Kau akan berharap bisa menghidupkan hati yang telah
mati. Tapi kau lupa hati itu telah setuju untuk kau kubur bermandikan lumpur.
Kau akan berusaha mengingatkanku akan ingatan manis yang bersama kita lukis.
Tapi kau lupa tidak pernah ada satupun kesempatan memaniskan harimu dengan
tawa.
Kau akan kulupakan sebagai hati yang pernah kucintai sepenuh hati.
Mendambamu berjuta kali. Memimpikanmu sebagai permaisuri. Cukup. Karena ketika
hari itu tercelup, kau hanya akan kulihat sebagai seorang perempuan yang telah
redup.
****
Coping
Santrock (2003): mengatur keadaan penuh beban, mengerahkan usaha untuk
memecahkan masalah, dan mencoba untuk menguasai atau mengurangi tekanan dan
berpikiran positif.






Post a Comment: