Kamis, 18 Juli 2019


   a Psi berkenaan dengan kemampuan melihat kembali secara jelas hal-hal yang dialami pada masa lampau.


        Sore kala itu menjadi saksi penyatuan dua pasang hati yang telah terlanjur saling berjanji. Dihiasi hujan yang telah lama menahan dalam arti sebuah penantian. Di depan pintu kos, kita saling bersaksi diikuti haru hati berpeluk pengakuan yang telah lama ingin diungkapkan.

Aku mengakui semua rasa yang tidak bisa kutahan lagi. Untuk pertama kali, terucap kata penuh makna didepan seorang perempuan yang selalu membuat jantungku serasa ingin keluar. “Aku sangat mencintaimu”. Tiga kata yang awalnya bagimu hanya sebuah lelucon belaka. Namun jika mengerti, seekor anjing pun akan mengakui bahwa kalimat itu tulus bersamaan dengan perasaan di belakangnya yang tak akan pernah putus.

Kau pun juga. Dengan ranum matamu menatap, dengan wajah berlinang airmata kau katakan menolakku adalah hal terbodoh yang pernah kau lakukan sepanjang hidupmu. Kau memintaku untuk sekedar sadar bahwa kau menerimaku. Masuk dalam hidupmu, mengisi setiap sudut hatimu, pemusnah malam sepimu.
www.pexels.com


Hingga hubungan itu kita ciptakan. Penuh suka cita dan rasa bahagia telah terpancarkan. Kita habiskan hari itu untuk sekedar merayakan sebuah hubungan. Kita masih malu-malu untuk sekedar saling melempar lelucon garing. Aku bahagia dan kau pun tertawa. Saling memupuk rasa untuk hubungan yang baru menuju mimpi-mimpi yang akan kita lakukan bersama, berdua, selamanya.

Tapi.

Di tengah hiruk pikuk kebahagiaan itu, terselip raut darimu yang akhirnya selalu membuatku ragu. Kau tak pernah benar-benar bahagia tentang malam itu. Malam pertama, sekaligus terakhir untuk kau mau membagi waktu berdua denganku. Wajahmu mengisyaratkan sendu. Hatimu masih rapuh untuk memulai kembali. Kau masih bingung tanggung. Otakmu masih dihiasi pria yang baru saja meninggalkanmu dan beralih ke pangkuan perempuan lain.
 
Selamat.

Aku tertipu olehmu kala itu. Kau berhasil membungkus luka yang dengan egois ingin kau nikmati sendiri. Kau tak sadar bahwa aku kekasihmu. Yang selalu bersiap dikala kau didera luka dan duka. Yang menjadi cangkir tempat kau bisa menuangkan kegelisahan. Bahkan aku juga punya gula yang bisa membuatmu tertawa. Tapi setengah tahun kesempatan itu kau lewatkan. Pertanda memang tak pernah ada ruang untuk cintaku mengembang. Kau terus menikmati pahit luka itu sendiri. Hingga akhirnya bagimu diriku tak pernah berarti.

Setelah malam itu berlalu, kau akhirnya mulai sibuk dengan luka itu. Luka yang membuatku tak pernah dianggap, yang membuatmu kalap. Kau hanya menyapa hati ini saat luka itu tak bisa lagi kau bendung sendiri. Kau hanya tertawa dengan leluconku saat cemburumu tumpah ruah penuh remah. Kau membuangku saat hanya kau tempat terakhir bergantungku.

Se egois itu.

Tapi aku selalu mencoba menjaga hubungan itu. Ku pikul sendiri bersama dengan nelangsa yang kau ciptakan. Kau hilang dan aku tak sanggup untuk menghadang. Sikapmu cukup untukku mengerti bahwa kau  adalah kekasihku, dan aku budakmu. Untukmu semua milikku. Untukku kehampaan tanpamu.

Angkuhmu tak pernah bisa kulunakkan. Kau seperti parang bengkok yang ingin patah. Aku tak pernah bisa meluruskannya. Kau se egois itu untuk terus merasakan luka.

Aku tak pernah bisa meluluhkanmu. Cintaku tak pernah berarti untukmu. Setiap saat di kala malam menjamu dalam redam memori itu kembali lagi.  Menafsirkan betapa hatiku masih terikat denganmu. Walau tak banyak tawa yang tersedia, tapi dirimu selalu hadir dalam bentuk indah lagi merekah. Seketika membuncah bulir air yang telah menunggu untuk mengalir. Tangisku pertanda kalahnya hatiku dalam pertarungan melawan egomu.

Kau menang, aku telah berjuang.

           Dengan berat hati aku mundur dalam perjuangan itu. Aku gagal menjadi pahlawan dalam keluh kesahmu. Kau terlalu tertutup untuk hubungan yang telah lama kita nantikan. Kau memintaku untuk bersabar dengan semua itu. Melakukan pembelaan dengan harap bisa membungkamku. Tapi kau tak sadar betapa lama penantianku berujung hingga kau menjadi tempat aku bergantung. Bahkan Tuhan-pun akan cemburu dengan semua rasa yang telah kumiliki untukmu. Kau hampir membunuhku. Hatiku tak pernah lagi mau menyapamu.

            Dalam beberapa kali kesempatan kita saling berpapasan sebagai dua individu yang telah lama terpisahkan. Kau menatapku tapi aku selalu berpaling darimu. Seperti itulah gambaran rasaku untukmu. Aku masih sangat mencintaimu jauh kedalam dasar palung itu. Tapi dipermukaan kau hanyalah orang asing yang akan membuatku jenuh mengingat semua tingkahmu. Wajah cantikmu tak pantas lagi untuk kau gunakan. Anggun dirimu hanyalah benteng dari hatimu yang telah hitam melegam. Kau membuatku hina disaat rasa untukmu menganggapmu tanpa cela. Aku membencimu dan aku mencintaimu.

            Setulus itu.
            Masa laluku untukmu.

Post a Comment: