5. EIDETIK
a Psi berkenaan
dengan kemampuan melihat kembali secara jelas hal-hal yang dialami pada masa
lampau.
Sore kala itu menjadi saksi penyatuan dua pasang hati yang telah terlanjur
saling berjanji. Dihiasi hujan yang telah lama menahan dalam arti sebuah
penantian. Di depan pintu kos, kita saling bersaksi diikuti haru hati berpeluk
pengakuan yang telah lama ingin diungkapkan.
Aku mengakui semua rasa yang tidak bisa kutahan lagi. Untuk pertama kali,
terucap kata penuh makna didepan seorang perempuan yang selalu membuat
jantungku serasa ingin keluar. “Aku sangat mencintaimu”. Tiga kata yang awalnya
bagimu hanya sebuah lelucon belaka. Namun jika mengerti, seekor anjing pun akan
mengakui bahwa kalimat itu tulus bersamaan dengan perasaan di belakangnya yang
tak akan pernah putus.
Kau pun juga. Dengan ranum matamu menatap, dengan wajah berlinang airmata
kau katakan menolakku adalah hal terbodoh yang pernah kau lakukan sepanjang
hidupmu. Kau memintaku untuk sekedar sadar bahwa kau menerimaku. Masuk dalam
hidupmu, mengisi setiap sudut hatimu, pemusnah malam sepimu.
![]() |
| www.pexels.com |
Hingga hubungan itu kita ciptakan. Penuh suka cita dan rasa bahagia telah
terpancarkan. Kita habiskan hari itu untuk sekedar merayakan sebuah hubungan.
Kita masih malu-malu untuk sekedar saling melempar lelucon garing. Aku bahagia
dan kau pun tertawa. Saling memupuk rasa untuk hubungan yang baru menuju
mimpi-mimpi yang akan kita lakukan bersama, berdua, selamanya.
Tapi.
Di tengah hiruk pikuk kebahagiaan itu, terselip raut darimu yang akhirnya
selalu membuatku ragu. Kau tak pernah benar-benar bahagia tentang malam itu.
Malam pertama, sekaligus terakhir untuk kau mau membagi waktu berdua denganku.
Wajahmu mengisyaratkan sendu. Hatimu masih rapuh untuk memulai kembali. Kau
masih bingung tanggung. Otakmu masih dihiasi pria yang baru saja meninggalkanmu
dan beralih ke pangkuan perempuan lain.
Selamat.
Aku
tertipu olehmu kala itu. Kau berhasil membungkus luka yang dengan egois ingin
kau nikmati sendiri. Kau tak sadar bahwa aku kekasihmu. Yang selalu bersiap
dikala kau didera luka dan duka. Yang menjadi cangkir tempat kau bisa
menuangkan kegelisahan. Bahkan aku juga punya gula yang bisa membuatmu tertawa.
Tapi setengah tahun kesempatan itu kau lewatkan. Pertanda memang tak pernah ada
ruang untuk cintaku mengembang. Kau terus menikmati pahit luka itu sendiri.
Hingga akhirnya bagimu diriku tak pernah berarti.
Setelah
malam itu berlalu, kau akhirnya mulai sibuk dengan luka itu. Luka yang
membuatku tak pernah dianggap, yang membuatmu kalap. Kau hanya menyapa hati ini
saat luka itu tak bisa lagi kau bendung sendiri. Kau hanya tertawa dengan
leluconku saat cemburumu tumpah ruah penuh remah. Kau membuangku saat hanya kau
tempat terakhir bergantungku.
Se
egois itu.
Tapi
aku selalu mencoba menjaga hubungan itu. Ku pikul sendiri bersama dengan
nelangsa yang kau ciptakan. Kau hilang dan aku tak sanggup untuk menghadang.
Sikapmu cukup untukku mengerti bahwa kau
adalah kekasihku, dan aku budakmu.
Untukmu semua milikku. Untukku kehampaan tanpamu.
Angkuhmu
tak pernah bisa kulunakkan. Kau seperti parang bengkok yang ingin patah. Aku
tak pernah bisa meluruskannya. Kau se egois itu untuk terus merasakan luka.
Aku
tak pernah bisa meluluhkanmu. Cintaku tak pernah berarti untukmu. Setiap saat
di kala malam menjamu dalam redam memori itu kembali lagi. Menafsirkan betapa hatiku masih terikat
denganmu. Walau tak banyak tawa yang tersedia, tapi dirimu selalu hadir dalam
bentuk indah lagi merekah. Seketika membuncah bulir air yang telah menunggu
untuk mengalir. Tangisku pertanda kalahnya hatiku dalam pertarungan melawan
egomu.
Kau
menang, aku telah berjuang.
Dengan berat hati aku
mundur dalam perjuangan itu. Aku gagal menjadi pahlawan dalam keluh kesahmu.
Kau terlalu tertutup untuk hubungan yang telah lama kita nantikan. Kau
memintaku untuk bersabar dengan semua itu. Melakukan pembelaan dengan harap
bisa membungkamku. Tapi kau tak sadar betapa lama penantianku berujung hingga
kau menjadi tempat aku bergantung. Bahkan Tuhan-pun akan cemburu dengan semua
rasa yang telah kumiliki untukmu. Kau hampir membunuhku. Hatiku tak pernah lagi
mau menyapamu.
Dalam beberapa kali
kesempatan kita saling berpapasan sebagai dua individu yang telah lama
terpisahkan. Kau menatapku tapi aku selalu berpaling darimu. Seperti itulah
gambaran rasaku untukmu. Aku masih sangat mencintaimu jauh kedalam dasar palung
itu. Tapi dipermukaan kau hanyalah orang asing yang akan membuatku jenuh
mengingat semua tingkahmu. Wajah cantikmu tak pantas lagi untuk kau gunakan.
Anggun dirimu hanyalah benteng dari hatimu yang telah hitam melegam. Kau
membuatku hina disaat rasa untukmu menganggapmu tanpa cela. Aku membencimu dan
aku mencintaimu.
Setulus itu.
Masa laluku untukmu.






Post a Comment: