Senin, 15 Juli 2019

n Psi gangguan pada tubuh yang ditunjukkan dengan adanya stimulasi taktil pada bagian tubuh tertentu yang rasa sakitnya dirasakan bagian tubuh lain.


Aku masih sembunyi di ruangan itu. Bilik gelap dan lembab. Sendiri di sudut dinding yang suka tanpa sadar ku gerayangi. Terdiam dengan semua pikiran-pikiran tentangmu. Manusia yang tidak pernah membuatku ingin berpindah. Bahkan setelah terucap kata pisah.

Kain tebal berbulu yang sudah saatnya untuk dibasuh menutupi badan dan semua kekuranganku. Kekurangan hatiku. Aku seperti berdiri ditengah hujan bulan Januari yang terasa sangat dingin. Tetesan hujan yang sangat menusuk badan. Basah tubuh pertanda aku tidak ingin berteduh. Aku sangat menikmati hujan itu. Hujan yang sangat kurindu.   Bahkan suryapun tidak pernah ku izinkan ingin menyapa dengan jari-jari hangatnya.
www.pexels.com

Suara itu masih sering terdengar. Suara perempuan yang telah lelah kuperjuangkan. Perempuan yang menjadi alasan untukku semangat melanjutkan hari. Bayati yang membuatku bertransformasi menjadi seseorang yang candu akan kata kasih disaat waktu dan latar terus merintih lirih. Tapi itu  hanyalah suara tanpa raga yang membuatku mengenal arti  psikolepsi, bahagia namun penuh lara.

Aku sering termangu diantara sunyi malam hari. Menandakan betapa rindunya hati dikala sapaanmu tidak pernah terdengar lagi. Anehnya dikala sunyi itulah wajahmu dengan jelas tergambar, dibandingkan dengan ribut yang membuatnya  samar. Entah apa yang terjadi, hampir dari setengah revolusi bumi berlalu namun rasa itu belum juga hilang. Masih tersisa sengatan yang menggelitik dada tentang bagaimana cantik dan mempesonanya ciptaan Tuhan yang pernah berucap “selamat pagi sayang” kala mentari menjelang. Namun sekarang untuk menatapmu pun butuh seribu pikiran ragu yang semakin membunuh hatiku, mengeras dan membatu.

Aku awalnya hanyalah mahasiswa semester empat yang sangat membenci kata rapat. Canduku sendiri dalam sunyi. Bermimpi dengan semua angan-angan yang selalu kudialogkan dengan Tuhan untuk bisa terjadi. Mahasiswa Psikologi yang tidak punya ciri-ciri psikolog. Disaat mahasiswa lain lebih senang diskusi aku lebih memilih menepi. Ketika para mahasiswa melakukan observasi aku lebih suka berdebat dengan hati tentang dunia dan keadaannya. Ketika mahasiswa melakukan wawancara psikologi aku lebih senang diam dan menatap keluar jendela kelas berharap akan kehadiran seseorang yang terlintas. Ya. Kehadiranmu. Perempuan yang membuatku mengenal istilah usaha tanpa batas.

Rangkaian kalimat yang kubuat dengan penuh emosi dikala mata menolak untuk bermimpi. Ini hanyalah sebuah cerita yang mungkin akan susah dimengerti. Tulisan yang lahir ketika area Broca ku aktif dan mulai imajinatif. Mungkin setelah sedikit membaca kau akan mengerutkan dahi tanda berpikir tentang rancu dan ambigunya tulisanku ini. Bukan untuk bermaksud sombong diri, tapi percayalah hanya aku yang mengerti dan kamu dipersilahkan pergi.

Entah dari mana dan bagaimana untuk menggambarkan awal permulaan tulisan ini tapi, aku ingin memberi nama yaitu Alaestesia. Ketika perpisahan berbuah rasa sakit di hati, kemudian direspon oleh otak dan tersimpan dalam memori. Hingga akhirnya dirasakan oleh sekujur badan sebagai bentuk refleksi dari emosi. Hingga kini rekaman rasa sakit itu masih terasa sebagai penyesalan melepasmu bebas memilih masuk kepelukan lelaki lain.

Tidak masalah.

Setidaknya aku masih memiliki sisa-sisa peninggalanmu yang bisa kurasa walau berwujud sakit dan duka. Akan kunikmati selalu dangan sepenuh hati, jiwa dan raga. Sebagai bukti aku pernah singgah dihati salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang mengesankan. Tentang betapa sempurnanya Tuhan menciptakanmu dalam wujud indah lagi merekah. Tentang betapa manisnya senyum dibibirmu penebas pahit serta rasa sakit. Tentang betapa anggunnya dirimu didalam kehalusan dan kelembutan.

Hanya satu yang membuatku kesal. Bayangmu sering hadir  diwaktu yang tidak tepat. Membuaku mengenang semua memori yang telah susah payah kusimpan dalam lemari hati terkunci rapat. Disaat yang sama terulang diorama ketika kuputuskan untuk mengakhiri. Kejadian yang sangat kusesalkan dan menjadi skrip yang selalu kuadukan dalam perwujudan doa ku kepada Tuhan. Tentang bagaimana rapuhnya aku setelah malam liburan yang menyedihkan.

            Untuk kesekian kalinya aku merasakan neyeri disekujur badan pertanda belum habisnya semua penyesalan. Tentang hancurnya setiap tiang perasaan yang menganggapmu sebagai tempat pelampiasan pengaduan. Dengan egois otakku selalu membenarkan bahwa hanya kaulah satu-satunya tempat menentukan pilihan tanpa mengakui pada akhirnya  dirikulah yang akan hancur berantakan.

            Kusadari setiap renungan dan lamunan hanyalah tentang dirimu. Kau serakah mengambil semua waktu kesendirianku. Kau ingin tetap selalu eksis didalam kepala yang sampai mati tak akan pernah kuganti. Kau tau, mengingatmu selalu membuatku pedih.

    Dalam lara hatiku selalu merintih.
****
Psikolepsi
n keadaan yang dicirikan oleh perubahan perasaan secara tiba-tiba’.

Area Broca
n area pada otak yang terletak di hemisfer serebral, berkaitan erat dengan produksi kata, berasal dari nama Paul Broca, seorang ahli bedah dari Prancis ; pusat bahasa

Post a Comment: