1. ALAESTESIA
n Psi gangguan pada tubuh yang ditunjukkan dengan adanya stimulasi taktil pada bagian tubuh tertentu yang rasa sakitnya dirasakan bagian tubuh lain.
Aku
masih sembunyi di ruangan itu. Bilik gelap dan lembab. Sendiri di sudut dinding
yang suka tanpa sadar ku gerayangi. Terdiam dengan semua pikiran-pikiran
tentangmu. Manusia yang tidak pernah membuatku ingin berpindah. Bahkan setelah
terucap kata pisah.
Kain
tebal berbulu yang sudah saatnya untuk
dibasuh menutupi badan dan semua kekuranganku. Kekurangan hatiku. Aku seperti
berdiri ditengah hujan bulan Januari yang terasa sangat dingin. Tetesan hujan
yang sangat menusuk badan. Basah tubuh pertanda aku tidak ingin berteduh. Aku
sangat menikmati hujan itu. Hujan yang sangat kurindu. Bahkan suryapun tidak pernah ku izinkan
ingin menyapa dengan jari-jari hangatnya.
Suara
itu masih sering terdengar. Suara perempuan yang telah lelah kuperjuangkan. Perempuan
yang menjadi alasan untukku semangat melanjutkan hari. Bayati yang membuatku bertransformasi menjadi
seseorang yang candu akan kata kasih disaat waktu dan latar terus merintih
lirih. Tapi itu hanyalah suara tanpa
raga yang membuatku mengenal arti psikolepsi,
bahagia namun penuh lara.
Aku
sering termangu diantara sunyi malam hari. Menandakan betapa rindunya hati
dikala sapaanmu tidak pernah terdengar lagi. Anehnya dikala sunyi itulah
wajahmu dengan jelas tergambar, dibandingkan dengan ribut yang membuatnya samar. Entah apa yang terjadi, hampir dari
setengah revolusi bumi berlalu namun rasa itu belum juga hilang. Masih
tersisa sengatan yang menggelitik dada tentang bagaimana cantik dan mempesonanya ciptaan
Tuhan yang pernah berucap “selamat pagi sayang” kala mentari menjelang. Namun
sekarang untuk menatapmu pun butuh seribu pikiran ragu yang semakin membunuh
hatiku, mengeras dan membatu.
Aku
awalnya hanyalah mahasiswa
semester empat yang sangat
membenci kata rapat. Canduku sendiri dalam sunyi. Bermimpi dengan semua
angan-angan yang selalu kudialogkan dengan Tuhan untuk bisa terjadi. Mahasiswa
Psikologi yang tidak punya ciri-ciri psikolog. Disaat mahasiswa lain lebih
senang diskusi aku lebih memilih menepi. Ketika para mahasiswa melakukan
observasi aku lebih suka berdebat dengan hati tentang dunia dan keadaannya.
Ketika mahasiswa melakukan wawancara psikologi aku lebih senang diam dan
menatap keluar jendela kelas berharap akan kehadiran seseorang yang terlintas. Ya. Kehadiranmu. Perempuan yang membuatku mengenal istilah
usaha tanpa batas.
Rangkaian kalimat yang kubuat dengan
penuh emosi dikala mata menolak untuk bermimpi. Ini hanyalah sebuah cerita yang mungkin akan
susah dimengerti. Tulisan yang lahir ketika area Broca ku aktif dan mulai imajinatif. Mungkin
setelah sedikit membaca kau
akan mengerutkan dahi tanda berpikir tentang rancu dan ambigunya tulisanku ini.
Bukan untuk bermaksud sombong diri, tapi percayalah hanya aku yang mengerti dan
kamu dipersilahkan pergi.
Entah
dari mana dan bagaimana untuk menggambarkan awal permulaan tulisan ini tapi,
aku ingin memberi nama yaitu Alaestesia. Ketika perpisahan berbuah rasa
sakit di hati, kemudian direspon oleh otak dan tersimpan dalam memori. Hingga akhirnya dirasakan oleh sekujur badan sebagai
bentuk refleksi dari emosi. Hingga kini rekaman rasa sakit itu masih terasa
sebagai penyesalan melepasmu bebas memilih masuk kepelukan lelaki lain.
Tidak
masalah.
Setidaknya
aku masih memiliki
sisa-sisa peninggalanmu yang bisa kurasa walau berwujud sakit dan duka. Akan
kunikmati selalu dangan sepenuh hati, jiwa dan raga. Sebagai bukti aku pernah
singgah dihati salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang mengesankan. Tentang
betapa sempurnanya Tuhan menciptakanmu dalam wujud indah lagi merekah. Tentang
betapa manisnya senyum dibibirmu penebas pahit serta rasa sakit. Tentang betapa
anggunnya dirimu didalam kehalusan dan kelembutan.
Hanya
satu yang membuatku kesal. Bayangmu sering hadir diwaktu yang tidak tepat. Membuaku mengenang semua memori
yang telah susah payah kusimpan dalam lemari hati terkunci rapat. Disaat yang
sama terulang diorama ketika kuputuskan untuk mengakhiri. Kejadian yang sangat
kusesalkan dan menjadi skrip yang selalu kuadukan dalam perwujudan doa ku
kepada Tuhan. Tentang bagaimana rapuhnya aku setelah malam liburan yang
menyedihkan.
Untuk kesekian kalinya aku
merasakan neyeri disekujur badan pertanda belum habisnya semua penyesalan.
Tentang hancurnya setiap tiang perasaan yang menganggapmu sebagai tempat
pelampiasan pengaduan. Dengan egois otakku selalu membenarkan bahwa hanya
kaulah satu-satunya tempat menentukan pilihan tanpa mengakui pada akhirnya dirikulah yang akan hancur berantakan.
Kusadari setiap renungan
dan lamunan hanyalah tentang dirimu. Kau serakah mengambil semua waktu
kesendirianku. Kau ingin tetap selalu eksis didalam kepala yang sampai mati tak
akan pernah kuganti. Kau tau, mengingatmu selalu membuatku pedih.
Dalam lara hatiku selalu merintih.
****
Psikolepsi
‘n
keadaan yang dicirikan oleh perubahan perasaan secara tiba-tiba’.
Area
Broca
n
area pada otak yang terletak di hemisfer
serebral, berkaitan erat dengan produksi kata, berasal dari nama Paul Broca,
seorang ahli bedah dari Prancis ; pusat bahasa






Post a Comment: