Senin, 15 Juli 2019


n Psi fenomena yang nyata dan terpercaya keberadaannya.

Beginilah adanya.

            Aku lumpuh namun tetap berjalan di setapak yang harus kutempuh. Menggendong status yang ketika itu masih ingin kujaga. Berbungkus dengan rasa yang melindunginya dari hujan dan lara karena sengatan cahaya sang surya. Berselendangkan cinta yang tak bisa kusangka pada akhirnya menjadi simbol sebuah kelumpuhan dan luka.

Hubungan itu berakhir, namun tidak dengan cinta ini. Cinta yang terlalu jujur untukmu. Hingga kau merasa diriku selalu mengemis akan kehadiranmu. Kau merasa bersalah. Dengan terpaksa kau menciptakan sebuah tipuan yang juga kau beri nama dengan cinta. Tapi aku sadar. Cinta yang kau tunjukkan padaku itu semu. Ada namun tiada. Dibalik semua ini tidak pernah ada rasa yang indah untuk membalas setetes cinta yang telah kujaga, untukmu, perempuan yang kukira akan menghancurkan semua sepi dan kesendirian. Menghadang segala lara dan rasa kecewa. Penghadir senyum berseling kuntum. Penebar sayang yang akan selalu ku kenang.
www.pexels.com


Itu fiksi. Aku bermimpi.

Kenyataannya sekarang aku tidak membawa status itu lagi. Keputusanku untuk melepasmu membuatku kian merana disaat harapku untuk dapat melupa setelahnya. Bahkan pelepasan itu sudah lama terjadi namun memori itu terus terulang kembali. Bukan melepasmu yang kusesalkan. Namun tiadanya kesempatan buatku untuk kau bahagia dengan dasar aku sebagai alasan. Untuk sekali saja, inginku melihat mu tertawa karena hadirku dikala mendungmu.

Itu salahku.

Itu kekalahanku.

Senyummu lebih sering berseri diantara tawa orang lain. Menerjemahkan betapa tidak menariknya diriku dimata indahmu. Betapa membosankannya candaanku yang selalu menanti untuk ditertawai. Betapa pecundangnya diriku tidak pernah mampu mempresentasikan cinta yang kumiliki.

Aku hidup, hatiku redup.

Seharusnya setiap rasa memiliki tempat untuk menikmati dunia. Sepasang kekasih akan benar-benar bahagia apabila rasa cinta mereka berada di tempat yang tepat, tanpa sekat, sebagai babat. Tapi tidak dengan rasa cintaku. Berulang kali dia memekik, menangis dan mengais meminta pertolongan tapi tak pernah kau hiraukan. Kau tak membunuh tapi membiarkannya mati dalam lusuh.

Kau tertawa, hatimu lupa akan luka.

Ketika dirimu ditengah tawa dan bahagia dengan semunya dunia, aku berada dipojok tabir dengan hati penuh getir. Mencoba mengobati luka yang bernanah penuh darah. Tertatih diantara kaki yang lelah letih. Mengerang keras dengan semua kepahitan yang terbayang. Aku berjuang dan kau memilih pindah tempat berpulang.

Sekali saja tanyalah kabarku. Untuk pertama kali genggamlah tanganku dengan jari-jarimu agar kau rasa hangatnya rasa pedih dan perih. Sekejap saja dekaplah raga ku agar kau tahu, ada jantung yang tetap bergetar ketika jarak kita tidak berbatas dinding dan pagar. Lihatlah mata angkuh ini yang akan luluh setiap hatimu berkata butuh.

Hatiku redup bersamaan dengan rasa gugup kala mata kita saling bertemu dan tanpa sadar menitip rinduku yang tak pernah teraup. Bersamaan dengan itu terus ku berusaha membersihkan namamu di meja hati yang tertulis dikala kita masih sering bercengkerama di malam legam. Aku hilangkan satu persatu kalimat manis yang sering kita lontarkan. Membersihkan setiap sudut dari debu manis harummanis. Walaupun pada akhirnya usahaku sia-sia. Karena luka itu tetap sama. Tidak pernah beranjak dan hanya semakin membengkak. Namamu selalu menahan setiap anju yang aku persiapkan untuk hari perpindahan. Mencoba berpindah ke hati yang mungkin akan mengerti arti rasa dan karsa. Tapi seperti berada dalam sebuah rumah. Aku tidak pernah lagi berani membuka pintu karena sebelumnya aku mencintaimu dengan tanpa hati-hati hingga kau buang dengan bebas menuju awan tanpa batas dan mendarat di tumpukan beling yang telah sebelumnya kau rekayasa. Sekali lagi luka itu jelas dan benar adanya.

Memang. Mencintaimu sangat mudah untuk kutafsirkan. Tapi sangat sulit untukku beralasan. Dengan segala kemampan kucoba kerahkan dengan harap dirimu menerima tanpa menajadikanku pelampiasan. Megah sudah kupersiapkan segala bentuk persiapan yang akan menjamumu sebagai seorang kekasih.

Jika kau bisa melihat hatiku, kau akan melihat beribu bunga bermekaran. Setiap daunnya akan selalu basah dengan air yang sejuk. Bunga berwarna-warni sebagai tanda bahwa banyak rasa yang telah kau izinkan aku untuk mencicipinya. Tepat ditengah taman tersebut akan berdiri sebuah patung perempuan berlapis berlian pertanda telah mantapnya hatiku menetapkan pilihan. Kupu-kupu akan saling bergiliran menghinggapinya satu persatu.

Jauh mata memandang akan kau dapati pohon ranum teduh pengusir jenuh. Dibawahnya ada kursi kayu yang telah terukir namamu. Kau tidak akan bisa menolak rayuannya. Kau akan tertidur karena angin sejuknya. Bajumu akan wangi karena ribuan bunganya. Senyaman itu cintaku. Seindah itu hatiku untukmu. Dulu.
         
****

1 komentar :