2. AUTENTISITAS
n Psi fenomena yang nyata dan
terpercaya keberadaannya.
Beginilah adanya.
Aku lumpuh namun tetap berjalan di setapak
yang harus kutempuh. Menggendong status yang ketika itu masih ingin kujaga.
Berbungkus dengan rasa yang melindunginya dari hujan dan lara karena sengatan
cahaya sang surya. Berselendangkan cinta yang tak bisa kusangka pada akhirnya
menjadi simbol sebuah kelumpuhan dan luka.
Hubungan
itu berakhir, namun tidak dengan cinta ini.
Cinta yang terlalu jujur untukmu. Hingga kau merasa diriku selalu mengemis akan
kehadiranmu. Kau merasa bersalah. Dengan terpaksa kau menciptakan sebuah tipuan
yang juga kau beri nama dengan cinta. Tapi aku sadar. Cinta yang
kau tunjukkan padaku itu semu. Ada namun tiada. Dibalik semua ini tidak pernah
ada rasa yang indah untuk membalas setetes cinta yang telah kujaga, untukmu,
perempuan yang kukira akan menghancurkan semua sepi dan kesendirian. Menghadang
segala lara dan rasa kecewa. Penghadir senyum berseling kuntum. Penebar sayang
yang akan selalu ku kenang.
![]() |
| www.pexels.com |
Itu
fiksi. Aku bermimpi.
Kenyataannya
sekarang aku tidak membawa status itu lagi. Keputusanku untuk melepasmu
membuatku kian merana disaat harapku untuk dapat melupa setelahnya. Bahkan
pelepasan itu sudah lama terjadi namun memori itu
terus terulang kembali. Bukan melepasmu yang kusesalkan. Namun tiadanya
kesempatan buatku untuk kau bahagia dengan dasar aku sebagai alasan. Untuk
sekali saja, inginku melihat mu tertawa karena hadirku dikala mendungmu.
Itu
salahku.
Itu
kekalahanku.
Senyummu
lebih sering berseri diantara tawa orang lain. Menerjemahkan betapa tidak
menariknya diriku dimata indahmu. Betapa membosankannya candaanku yang selalu
menanti untuk ditertawai. Betapa pecundangnya diriku tidak pernah mampu
mempresentasikan cinta yang kumiliki.
Aku
hidup, hatiku redup.
Seharusnya
setiap rasa memiliki tempat untuk menikmati dunia. Sepasang kekasih akan
benar-benar bahagia apabila rasa cinta mereka berada di tempat yang tepat,
tanpa sekat, sebagai babat. Tapi tidak dengan rasa cintaku. Berulang kali dia
memekik, menangis dan mengais meminta pertolongan tapi tak pernah kau hiraukan.
Kau tak membunuh tapi membiarkannya mati dalam lusuh.
Kau
tertawa, hatimu lupa akan luka.
Ketika
dirimu ditengah tawa dan bahagia dengan semunya dunia, aku berada dipojok tabir
dengan hati penuh getir. Mencoba mengobati luka yang bernanah penuh darah.
Tertatih diantara kaki yang lelah letih. Mengerang keras dengan semua kepahitan
yang terbayang. Aku berjuang dan kau memilih pindah tempat berpulang.
Sekali
saja tanyalah kabarku. Untuk pertama kali genggamlah tanganku dengan
jari-jarimu agar kau rasa hangatnya rasa pedih dan perih. Sekejap saja dekaplah
raga ku agar kau tahu, ada jantung yang tetap bergetar ketika jarak kita tidak
berbatas dinding dan pagar. Lihatlah mata angkuh ini yang akan luluh setiap
hatimu berkata butuh.
Hatiku
redup bersamaan dengan rasa gugup kala mata kita saling bertemu dan tanpa sadar
menitip rinduku yang tak pernah teraup.
Bersamaan dengan itu terus ku berusaha membersihkan namamu di meja hati yang
tertulis dikala kita masih sering bercengkerama di malam legam. Aku hilangkan satu persatu kalimat manis yang sering
kita lontarkan. Membersihkan setiap sudut dari debu manis harummanis.
Walaupun pada akhirnya usahaku sia-sia. Karena luka itu tetap sama. Tidak
pernah beranjak dan hanya semakin membengkak. Namamu selalu menahan setiap anju
yang aku persiapkan untuk hari perpindahan. Mencoba berpindah ke hati yang mungkin akan mengerti arti
rasa dan karsa. Tapi seperti berada dalam sebuah rumah. Aku tidak pernah lagi
berani membuka pintu karena sebelumnya aku mencintaimu dengan tanpa hati-hati
hingga kau buang dengan bebas menuju awan tanpa batas dan mendarat di tumpukan beling yang telah sebelumnya
kau rekayasa. Sekali lagi luka itu jelas dan benar adanya.
Memang. Mencintaimu sangat mudah untuk kutafsirkan. Tapi sangat sulit
untukku beralasan. Dengan segala kemampan kucoba kerahkan dengan harap dirimu
menerima tanpa menajadikanku pelampiasan. Megah sudah kupersiapkan segala
bentuk persiapan yang akan menjamumu sebagai seorang kekasih.
Jika kau bisa melihat hatiku, kau akan melihat beribu bunga bermekaran.
Setiap daunnya akan selalu basah dengan air yang sejuk. Bunga berwarna-warni
sebagai tanda bahwa banyak rasa yang telah kau izinkan aku untuk mencicipinya.
Tepat ditengah taman tersebut akan berdiri sebuah patung perempuan berlapis
berlian pertanda telah mantapnya hatiku menetapkan pilihan. Kupu-kupu akan
saling bergiliran menghinggapinya satu persatu.
Jauh mata memandang akan kau dapati pohon ranum teduh pengusir jenuh.
Dibawahnya ada kursi kayu yang telah terukir namamu. Kau tidak akan bisa
menolak rayuannya. Kau akan tertidur karena angin sejuknya. Bajumu akan wangi
karena ribuan bunganya. Senyaman itu cintaku. Seindah itu hatiku untukmu. Dulu.
****






1 komentar :
Mantap 😅😅
Reply